22 September, 2012

  • CHAINSAW

    Mata Kuliah: Pemanenan Hutan Tanggal: Rabu, 19 September 2012
    Tempat: Laboratorium GPHH 105
    PENGENALAN ALAT PEMANENAN MEKANIS (CHAINSAW)

    Oleh :
    Moh Arif Rohmatullah/ E24100098
    Kelompok 2
    Dosen :
    Dr. Ir. Juang R. Matangaran, MS.
    Asisten :
    Aditya M. Pamungkas/E14090015


    BAGIAN PEMANFAATAN SUMBER DAYA HUTAN
    DEPARTEMEN MANAJEMEN HUTAN
    FAKULTAS KEHUTANAN
    INSTITUT PERTANIAN BOGOR
    2012
    BAB I
    PENDAHULUAN
    Latar belakang
    Pemanenan hutan dapat diartikan sebagai serangkaian tahapan kegiatan yang mengubah nilai potensial hasil hutan menjadi barang (yang bernilai actual. Tujuan dilakukan pemanenan hutan adalah untuk meningkatkan nilai hutan, mendapatkan produk hasil hutan yang dibutuhkan masyarakat, memberi kesempatan kerja bagi masyarakat di sekitar hutan, memberikan kontribusi kepada devisa negara dan membuka akses wilayah. Sejalan dengan berkembangnya teknologi pemanenan hutan maka diharapkan kegiatan pemanenan hutan dilakukan adalah ramah lingkungan.
    Untuk mendapatkan pemanenan yang ramah lingkungan diperlukan beberapa tahap pemanenan pemanenan seperti perencanaan, jenis alat yang digunakan serta teknik pemaenan yang digunakan. Perencanaan pemanenan hutan yang baik adalah dapat menjamin kepastian terpeliharanya keanekaragaman hayati, terpeliharanya kualitas tanah, air dan udara serta menjamin terpeliharanya kehidupan budaya masyarakat sekitar. Penggunaan peralatan sistem mekanis yang ramah lingkungan seperti jenis traktor yang lebih ramah lingkungan tetapi produktivitas lebih tinggi. Selain itu, agar pemanenan hutan ramah lingkungan tetap terjaga maka perlu diterapkannya sistem pemanenan dengan menggunakan teknik silvikultur. Teknik silvikultur yang digunakan antara (Tebang Pilih Tanam Indonesia –TPTI), (Tebang Habis Permudaan Buatan–THPB), (Tebang Habis Permudaan Alam–THPA), (TebangJalurTanamIndonesia –TJTI), dan (Tebang Pilih Tanam Jalur–TPTJ).
    Tujuan
    1. Mengenal komponen Chainsaw, termasuk komponen safety.
    2. Mengetahui engine chainsaw dan prinsip kerja
    BAB II
    TUNJAUAN PUSTAKA
    Kegiatan pemanenan kayu meliputi penebangan, penyaradan, muat bongkar dan pengangkutan. Kegiatan tersebut dapat dilakukan baik secara manual maupun mekanis. Sistem pemanenan kayu secara mekanis banyak dipilih karena menghasilkan produktivitas alat yang tinggi dibandingkan secara manual dan ketersediaan tenaga kerja yang relatif sedikit di mana hal ini umum di luar pulau Jawa dengan areal hutan yang luas (Anonim, 1998).
    Kegiatan pemanenan kayu harus memperhatikan aspek teknis, ekonomis, dan ekologis. Pada umumnya pelaksanaan pemanenan kayu di Indonesia tersebar di beberapa lokasi, bahkan tempat pengumpulan kayu memiliki areal yang cukup luas, jarak kayu yang disarad dan diangkut cukup jauh, dan jarak antara tumpukan kayu yang satu dengan yang lain cukup jauh pula (Sitorus, 2000). Penggunaan peralatan pemanenan kayu sangat membantu perusahaan dalam pencapaian tujuan, yaitu: (1) mempercepat proses pelaksanaan pekerjaan; (2) melaksanakan jenis pekerjaan yang tidak dapat dilakukan oleh tenaga manusia; dan (3) hal tersebut dilakukan karena alasan efisiensi, keterbatasan tenaga kerja, keamanan dan faktor ekonomi lainnya (Anonim, 1984; Suhartana dan Yuniawati, 2007; Suhartana et al, 2007). Agar tujuan dapat tercapai, perlu adanya pemilihan alat yang tepat guna, ekonomis dan sesuai dengan kondisi pekerjaan. Pemilihan alat yang tidak sesuai dapat berakibat tidak tercapainya tujuan yang diharapkan dan dapat menyebabkan kerusakan pada alat itu sendiri.
    Peralatan pemanenan kayu yang biasa digunakan antara lain chainsaw untuk penebangan, traktor, dan forwarder untuk penyaradan, loader dan excavator untuk muat bongkar, dan truk untuk pengangkutan. Peralatan tersebut memiliki jenis, tipe, merek, dan jumlah yang berbeda sehingga sangat dituntut adanya pengetahuan tentang perencanaan pemilihan peralatan yang baik dan efisien.
    Berdasarkan peralatan yang digunakan dalam penebangan terdapat 2 sistem yaitu sistem manual dan mekanis. Sistem penebangan manual menggunakan peralatan sederhana seperti gergaji tangan, kapak dan baji. Sedangkan kegiatan penebangan secara mekanis menggunakan gergaji rantai (chainsaw). Gergaji rantai dapat digolongkan menjadi 2 jenis utama yaitu gergaji rantai untuk 2 orang (two men
    chainsaw) dan gergaji rantai untuk 1 orang (one man chainsaw) (Staaf & Wiksten,1984) . Dengan semakin majunya teknologi pemanenan hasil hutan, manusia
    mencari jalan untuk membuat alat-alat pemanenan yang semakin sempurna dan memudahkan dalam pekerjaan pemanenan salah satunya adalah penggunaan chainsaw.
    Chainsaw digunakan pada saat penebangan dan pembagian batang. Beberapa keuntungan penggunaan chainsaw sebagai berikut (Haryanto, 1996; Haryanto, 1984; Huggard & Owen, 1959): (1) Mengurangi biaya penebangan dan pembagian batang; (2) Menciptakan tunggak yang lebih rendah; (3) Pekerjaan lebih cepat selesai (Schmincke, 1997; Heinrich, 1995); (4) Lebih efisien dan lebih murah untuk penebangan dan pembagian batang; (5) Mengurangi kecelakaan kerja. Kebutuhan jumlah chainsaw dapat dihitung berdasarkan pada waktu penyelesaian pekerjaan (jam kerja), volume kerja (m3) dan kapasitas produksi alat yang digunakan (m3/jam).










    BAB III
    METODOLOGI
    Waktu dan Tempat
    Pada praktikum mata kuliah Pemanenan Hutan kali ini mengenai Pengenalan Alat Pemanenan Mekanis (Chainsaw) dilakukan pada hari Kamis, 19 September 2012, pukul 14.00-17.00 dan bertempat di Laboratorium GPHH 105.
    Alat dan Bahan
    1. Alat Tulis (Bolpoin, Kertas)
    2. Chainsaw,
    3. Komponen-komponen engine chainsaw,
    4. Alat-alat keamanan kerja ( google, gloves, penutup telinga)
    Cara Kerja
    Praktikan menyiapkan alat tulis, menggambar komponen engine chainsaw, menggambar body dan bagian lainnya dari chainsaw, dan mengidentifikasi bagian safety pada chainsaw










    BAB IV
    HASIL DAN PEMBAHASAN
    Hasil
    (Dihalaman belakang)
    Pembahasan
    Gergaji rantai digunakan untuk membuat takik rebah dan takik balas, dan untuk memotong bagian-bagian kayu lainnya, baik dalam kegiatan pembersihan cabang, penebangan maupun pembagian batang.
    Pada dasarnya gergaji terdiri dari 3 bagian utama, yaitu mesin penggerak, bilah pemadu (penghantar) dan rantai gergaji. Pada tahun 1970-an jenis gergaji yang banyak digunakan adalah gergaji buatan Amerika, seperti Mculloch, Homelite, Pioneer, Echo dsb, tetapi merek-merek tersebut sebenarnya kurang cocok untuk postur orang Asia termasuk Indonesia, disamping itu jenis tersebut bobotnya terlalu berat. Gergaji rantai buatan Eropa merupakan gergaji yang relatif ringan dan kecil, sehingga relatif sesuai untuk ukuran tubuh orang Asia. Merek-merek gergaji buatan eropa antara lain adalah STIHL, Dolmar, Hosquarna, Uran, dsb. Pada saat ini model yang paling umum adalah gergaji yang terbuat dari bahan ringan, kekuatan mesin berkisar antara 10 – 12 HP dan panjang bilah penghantarnya antara 24 – 30 inchi.

    Mata Rantai Chainsaw
    Mata rantai harus tipis untuk memberikan gergajian yang baik dengan berat alat yang ideal. Mata rantai dibuat makin ke ujung harus semakin tajam hingga mempermudah penebangan. Beberapa tipe mata rantai yaitu Lance Teeth, Peg Tooth, dan Champion Tooth (Wackerman, 1949).

    Ketentuan Rancangan Gergaji
    Gergaji mesin harus dirancang dan dilengkapi sesuai dengan ketentuan. Gergaji tersebut harus termasuk :
    (a) Tangkai terpisah untuk kedua tangan saat menggunakan sarung tangan:
    (b) Suatu on/off tombol yang dapat dicapai dengan tangan kanan pada tingkap pemadam dan memakai sarung tangan:
    (c) Sistim pengunci yang mencegah gergaji mesin hidup/jalan dengan tak diduga-duga, sebab dua pengungkit harus ditekan secara serempak:
    (d) Pengaman tangkai belakang untuk melindung tangan kanan;
    (e) Sistim anti getaran terdiri dari peredam getaran karet antara motor dan pegangan;
    (f) Suatu rem-rantai, yang diaktipkan secara manual dengan tangkai depan dan mekanis tidak manual dalam kasus kembali (kick-back);
    (g) Suatu penangkap rantai;
    (h) Suatu bumper taji, yang menyebabkan berat gergaji bersandar pada batang kayu dengan aman selama yang memotong batang;
    (i) Pelindung tangkai dengan untuk melindungi tangan kiri dari rantai;
    (j) Suatu tutup rantai untuk menghindarkan luka-luka selama pengangkutan
    (Yanri, dkk, 1998).

    Penggunaan Gergaji Rantai
    Tindakan yang perlu dilakukan sebelum gergaji rantai dipergunakan, antara lain:

    1 Pemasangan keping rantai dan rantai
    Untuk memasang keping rantai dan rantainya, tutup pelindung roda rantai perlu dibuka terlebih dahulu dengan melepas mur pada baud kemudian rantai dipasan pada alur keping rantai dengan gigi pengerat pada bagian atas keping rantai mengarah pada ujung.

    2 Pengisian bahan bakar
    Bahan bakar yang dipergunakan adalah bensin campur dengan perbandingan satu bagian bahan pelumas (SAE 30) dan 25 bagian bensin (Premium). Pada gergaji rantai yang baru, selama 40 jam pertama digunakan campuran dengan perbandingan 1:20. Campuran tersebut harus tercampur dengan baik yaitu dengan mengguncang-guncangkan terlebih dahulu sebelum dimasukan ke dalam tangki.
    3. Pengisian minyak pelumas rantai
    Rantai gergaji harus diberi pelumas agar tidak cepat rusak. Pelumas rantai yang digunakan adalah minyak pelumas SAE 30, tidak diperbolehkan mempergunakan minyak bekas.

    4. Menghidupkan dan mematikan mesin
    Cara menghidupkan dan mematikan mesin adalah tali starter ditarik perlahan-lahan 3-5 kali agar masuk campuran bahan bakar dan udara. Kemudian ditarik sekaligus sampi mesin hidup. Cara mematikannya adalah menekan tombol posisi off.

    5. Pelumasan rantai
    Segera setelah mesin hidup, pelumas dipompa oleh mesin sehingga alur keping rantai dan rantai gergaji mendapat pelumasan. Untuk jenis gergaji yang sistem pelumasannya tidak otomatis, minyak dapat mengalir kedalam alur keping rantai dan rantai gergaji dengan jalan menekan tombol pompa dengan ibu jari. Pelumas rantai dapat diperiksa dengan cara meletakkan sehelai kertas dimuka gergaji yang dihidupkan. Bila pelumasan baik, maka minyak akan memercik pada kertas tersebut
    (Soenarso, et al,1972)








    BAB V
    KESIMPULAN
    Chainsaw merupakan alat penebang pohon mekanis yang dapat digunakan secara aman jika operator mematuhi kaidah penggunaannya dan sebaliknya. Chainsaw terdiri dari tiga bagian, diantaranya body, engine, bilah dan rantai. Dalam pemakaian chainsaw ini dibutuhkan keahlian yang khusus agar tidak terjadi kecelakan kerja. Dan penggunaannya harus diperhatikan teknik-teknik yang harus dilakukan agar operator chainsaw terjamin keselamatannya.
    DAFTAR PUSTAKA
    Anonim. 1998. Pemanenan Hutan dan Pembukaan Lahan Ramah Lingkungan. PT. Intarco Penta. Jakarta.
    Huggard, E.R. and T. H. Owen. 1959. Forest Machinery. Adam and Charles Black. London.
    Schmincke, K.H. 1997. Environmentally sound forest harvesting. Testing the applicability of the FAO model code in the Amazone in Brasil
    Sitorus, M.T.F. 2000. Penebangan liar. Majalah Tropis 10 (2) : 6-9 Oktober 2000. Warta Alam Tropis. Jakarta.
    Soenarso, R., Soewito, I., Sumantri dan Widodo. 1972. Penuntun Penggunaan Gergaji Mesin. Publikasi Khusus No. 10. Lembaga Penelitian Hasil Hutan. Bogor.
    Suhartana, S., Yuniawati dan Rahmat. 2007. Penggunaan jumlah chainsaw yang tepat dan efisien pada penebangan: Studi kasus di satu perusahaan hutan di Kalimantan Timur. Jurnal Rimba Kalimantan 12(1):62-66, Juni 2007. Fakultas Kehutanan, Universitas Mulawarman. Samarinda.
    Wackherman, A. E. 1949. Harvesting Timber Crops. McGraw-Hill Book Company. Inc. New York.
    Yanri, Z., M. Yusuf, A. W. Ernawaty. 1998. Kode Praktis ILO Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Kehutanan (Terjemahan Elias). International Labour Office. Geneva.
  • 0 komentar:

    Poskan Komentar

    Silahkan Komen di sini ya...
    Terima Kasih :D

    Copyright @ 2013 PETUALANGANKU DI ATAS KERTAS.